Sekitar 500 meter sebelum mencapai kediaman H.Andi Kaswadi Razak, arus lalu lintas telah dialihkan. Petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) tampak mengatur kendaraan yang memadati jalan dan terpaksa diparkir di badan jalan. Situasi itu bukan gambaran acara protokoler resmi, melainkan penanda adanya daya tarik sosial yang bekerja secara sunyi, namun kuat.
Ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat hadir dengan kesadaran sendiri. Tanpa komando, tanpa mobilisasi, tanpa sekat sosial. Mereka datang bukan karena jabatan yang sedang digenggam, melainkan karena hubungan yang pernah terjalin dan ingatan yang tetap hidup.
Momentum tersebut menegaskan bahwa figur yang pernah memimpin tak serta-merta hilang dari ruang batin masyarakat. Keramaian yang terjadi bukan sekadar seremonial, melainkan ruang temu bagi kerinduan kolektif — ruang untuk bersua, menyapa, dan menjaga silaturahmi yang telah lama terbangun.
Pantauan media, acara buka puasa itu turut dihadiri Wakil Bupati Soppeng, Komandan Kodim (Dandim), Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakandepag), para kepala SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Soppeng, tokoh masyarakat, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, hingga insan pers. Kehadiran lintas unsur tersebut mempertegas bahwa agenda ini telah melampaui acara personal dan menjelma menjadi peristiwa sosial yang bermakna luas.
Di tengah suasana itu, tampak Arham MSi La Palellung, Ketua Majelis Pendiri Perkumpulan Rumpun Wija Pemersatu Adat Nusantara (PERWIRA ADAT NUSANTARA), berjalan berdampingan dengan Andi Tantu Datu Galib, figur adat yang dikenal aktif menjaga dan melestarikan kebudayaan Bugis di Kabupaten Soppeng. Kebersamaan keduanya menjadi simbol bahwa nilai-nilai kultural tetap memiliki ruang terhormat di tengah dinamika pemerintahan modern.
Dari perspektif adat, Arham menilai kehadiran ribuan warga tersebut sebagai penanda sosial yang jujur. Dalam tradisi Bugis-Soppeng, keramaian yang lahir tanpa komando disebut sebagai passeddingeng ati — saat hati masyarakat berkumpul dengan sendirinya.
“Ini bukan soal nostalgia kekuasaan, tetapi tentang hubungan sosial yang dirawat dengan adab dan siri’,” ujarnya.
Menurutnya, adat Bugis mengenal prinsip bahwa pemimpin sejati akan tetap dipanggil oleh masyarakatnya meski tak lagi menjabat. Jabatan memiliki masa, tetapi ingatan masyarakat jauh lebih panjang umurnya.
“Kekuasaan bisa berakhir, tetapi jejak sosial tidak mudah dihapus. Di situlah adat bekerja,” katanya.
Ia menambahkan, dalam Pappaseng orang tua-tua Bugis, pemimpin yang baik bukan yang paling keras bersuara saat berkuasa, melainkan yang paling dikenang ketika kekuasaan ditanggalkan.
“Adat mengajarkan, jangan memutus akar dari jalan yang pernah membesarkan kita. Siapa yang melupakan jasa dan hubungan, sedang merawat sepi di masa depan,” tuturnya reflektif.
Buka puasa di Laburawung berlangsung tanpa sekat. Warga duduk bersisian, berbincang, dan berbagi hidangan dalam suasana kekeluargaan. Tidak tampak jarak antara yang pernah memerintah dan yang pernah diperintah. Nilai-nilai adat Bugis-Soppeng bekerja secara alami — tanpa pidato panjang, tanpa simbol berlebihan — menjaga harmoni sosial melalui ingatan dan rasa hormat.
Bagi Arham, momentum tersebut menjadi cermin bagi kepemimpinan hari ini. Dalam masyarakat beradat, kekuasaan bukan satu-satunya ukuran. Yang paling lama hidup adalah ingatan kolektif.
Soppeng, pada akhirnya, masih merindukan akar. Bukan sekadar figur, melainkan nilai kedekatan, ketulusan, dan kepemimpinan yang membekas. Sore itu, Laburawung menjadi saksi: di negeri beradat, jabatan boleh berakhir, tetapi ingatan yang dirawat dengan adab akan selalu menemukan jalannya sendiri.




Komentar0